2008
06.29

Undangan nikah

Pasti pada mikir aku mo nikah deh :haha: kecele sodara sodara. Ini cuma kritiku terhadap undangan nikah yang ada saat ini.
Berawal dari liat undangan nikah temene temenku di kost kemaren, antara si udin, S.T dengan maimunah S.Teh ( nama dan kejadian disini hanya fiktif belaka, jika terjadi kesamaan itu hanyalah sebuah ketidak sengajaan penulis sahaja )

Aku heran, kok disetiap undangan pernikahan, kalo yang nikah dah punya titel tetek bengek, pasti aja ditulisin. Haji lah, letnan lah, jendral lah, sarjana lah, doktor lah, master lah, dokter lah, almarhum lah :eyes_droped: ( kalo yang ini pesta nikahe di kuburan, jam 12 malem ). Lalu ditambah lagi gelar gelar kebangsawanan dak jelas ( biasane ini di daerah ), tambah lagi titel titel untuk nama nama keluarga pihak pengundang.

Ngapain kok gak udin bin saripudin, ato maimunah binti ijem, kan lebih manusiawi tuh. Gak ada diskriminasi sosial, dak ada tindakan yang membangga banggakan sebuah titel. Kalo aku nikah nanti ( taon 2020 ) aku dak bakal ngirim undangan yang ada title dibelakange ( soale dak punya titel, karna gak lulus kuliah :haha: )

Btw, aku mungkin dak nikah :horror: , napa?? karna tadi setelah nanya lagi ama mama, aku kudu lulus kuliah dulu, baru diizinkan buat nikah. lha?? kalo dak lulus kuliah piye?? berarti aku dak nikah nikah donk :cry: , nasib nasib. :nothing_to_say:

2008
06.27

Pendatang baru di blog ini

Ada beberapa pendatang baru yang menghiasi blog ini kedepannya. satu pack BigBlacy Emoticons

ini lah mereka :

:amazing: :anger: :bad_egg: :bad_smile: :beaten: :big_smile: :cry: :electric_shock: :exciting: :eyes_droped: :greedy: :grimace: :haha: :happy: :horror: :money: :nothing: :nothing_to_say: :scorn: :secret_smile: :shocked: :super_man: :unhappy: :victory: :what: :girl: :shame:

2008
06.27

Semangatnya itu tlah pudar

semangatnya itu tlah pudarBercerita tentang seorang teman, teman yang dulu menemaniku setiap pagi. Teman yang dulu sempat akan mencicip gaji ratusan dollar hanya dalam 1 bulan. Teman yang dulu percaya bahwa ” inilah jalan hidup kami”.

Kini semangatnya itu tlah pudar, tak ada lagi kulihat binar binar matanya. Tak lagi dia membahas tetang berapa dollarkah pendapatannya hari ini. Tak ada lagi mimpi yang ingin dia capai dengan apa yang dia dapatkan.

Semangat itu tlah pudar, berganti seperti semula. Walau tak skeptis, tapi jelas kulihat dia tlah tak lagi tertarik dengan duniaku ini. Entahlah, mungkin karna kecewa kehilangan ratusan dollar dalam sekejap atau memang telah jenuh dengan duniaku ini.