Jika dicermati lagi, ada sosok yang sangat jarang tertulis di blog ini. Dia adalah seseorang yang memiliki tanggal, bulan, hari dan jam lahir yang sama denganku. Seseorang yang secara tak langsung telah aku tiru cara berfikirnya. Seseorang yang secara tak langsung telah kusedot ilmunya. Seseorang yang jalan hidupnya kujadikan salah satu referensi hidup untukku, dialah Ayahku.
Ayahku biasa kupanggil dengan sebutan papa. Papaku adalah seorang pekerja keras, mulai dari pagi hingga sore dia berada di kantor, sesudah itu biasanya ia berada di ladang, atau sibuk dengan kegiatan kegian lain yang intinya untuk menambah pemasukan keluarga.
Memang dulu, saat keluargaku diambang broken home karna beliau, ia lah orang pertama yang sangat amat kubenci. Walau kutahu itu dikarenakan guna guna si perempuan jalang itu. 6 tahun kupendam perasaan benci ini, karna dia telah menyakiti hati mama, membuat mama menangis, meluluh lantakkan kehidupan keluarga. Disaat inilah aku baru mulai merasakan kehilangan arti sebuah keluarga, mulai berontak dengan sering keluar malam, mulai badung, mulai mengenal rokok, dan beberapa hal lain yang tak pantas di banggakan.
Sebenarnya keadaan udah mulai membaik saat aku duduk di kelas 3 SMA, apalagi sejak papa dan mama pulang haji. Tapi sakit di hati ini tampaknya masih ada. Hingga aku menginjakkan kaki di jogja.
Semuanya mulai berubah saat gempa jogja mei 2006, 5 hari setelah gempa aku pingsan di kost, gak ada yang tau, karna kelelahan bolak balik jogja - bantul selama 3 hari untuk ngasih bantuan ke daerah pelosok, makan gak teratur. aku pingsan 5 hari. Bangun bangun papa dah nyampe jogja, bangun bangun aku divonis kena typus dan maag. 2 hari setelah aku sadar, papa langsung membawa aku terbang ke padang. Saat inilah aku baru mulai merasakan pulang ke “rumah”, setelah 6 tahun lamanya rumah seakan akan menjadi neraka, saat itu benar benar nyaman rasanya. Semua yang kuimpikan udah ada, benar benar sebuah keluarga.
Setelah kurenungi kembali, banyak rupanya yang telah kucontoh darinya. Sifat mandirinya, papaku adalah seorang anak yang udah mandiri sejak SD, dari SD hingga SMA dia tak pernah meminta uang sekolah, apalagi uang jajan ke orang tua. Mau mengerjakan apa saja asal halal. Sifat pekerja kerasnya lah yang hingga kini sangat kukagumi serta ingin kucontoh. Keadaanku saat inipun tak lepas dari sosoknya. Dia adalah sosok seorang ayah yang keras terhadap anaknya, karna hanya dengan begitu ia mampu menunjukkan kasih sayangnya sebagai seorang ayah ( walau sebenarnya ini mulai luntur sejak adikku lahir, kini ia lebih senang bercanda dengan anak anaknya ). Dahulu, aku masih ingat, saat pertama kali berkelahi disekolah, dia marah besar. Dia gak membesarkan anak untuk menjadi seorang jagoan, saking marahnya, dia sempat mengacungkan golok ke kepalaku ( ngeri abis ). Tapi dia tetap seorang ayah yang penyayang, tetap seorang ayah yang memperjuangkan hak anak anaknya diatas haknya sendiri.
Pa, kuhaturkan maafku padamu. Setiap manusia pasti ada khilafnya, kumaafkan kesalahanmu di masa masa lalu, serta maafkan juga anakmu ini yang telah tak menghargaimu sebagai seorang ayah selama bertahun tahun. Pa, maafku padamu.
Ada paragraf yang menarik untuk dikutip, kudapat dari blog kick andy dalam postingannya yang berjudul ayah
Hidup begitu singkat. Kadang kita merasa tidak saling membutuhkan, tidak saling mencintai, sampai maut akhirnya memisahkan kita. Akan lebih berarti wujud cinta yang kita perlihatkan pada orang-orang tercinta ketika mereka masih hidup, ketimbang air mata yang tumpah di pusara yang tidak lagi bermakna.



















Ilham saibi. Cuma seorang blogger dan mahasiswa bodoh yang ingin berbicara lewat blognya, bukan siapa siapa, dan bukan apa apa...
saya juga pernah mengalami hal yang sama, perah mengalami perasaan benci juga. tapi sebagai anak kita tak akan bisa lepas dari orang tua kita