Iqro’
1,5 tahun yang lalu aku putuskun untuk kembali ke kampung halaman. Sebuah keputusan yang aku yakin adalah yang terbaik untuk diriku. Hari kedua sesampainya dirumah, setelah istirahat semalaman, aku datangi mama. Tak lain dan tak bukan adalah untuk kembali belajar iqro, belajar kembali cara melafadzkan setiap huruf tulisan arab, dan belajar kembali beberapa tajwid yang mungkin sudah aku lupa. 6 hari jikalau aku tak salah ingat aku belajar setiap sesudah maghrib ama mama. Alhamdulillah, semoga ilmu yang mama ajarkan menjadi amal jariyah yang tak akan putus hingga aku meninggal nanti, amin allahumma amin.
Mengapa aku kembali belajar iqro ?
April tahun lalu, alhamdulillah Allah izinkan diri ini untuk menginjak tanah haram. Nah, ada kejadian yang membuat diri ini malu semalu malunya ama anak anak disana. Kejadiannya sebelum shalat ashar, aku udah dateng ke masjid nabawi, lalu dibagian tengah masjid itu ada beberapa qur’an yang terbentang, tapi tanpa ada yang baca. Aku penasaran, kenapa ada qur’an terbentang tapi gak ada yang baca. Sesusah shalat dan kembali ke hotel, maka aku tanyakan pada uztad yang membimbingku disana. Dan aku mendapatkan jawaban ” pemilik qur’an qur’an itu adalah anak anak madrasah di masjid nawabi (SD kalo di indonya) dan kalo disini anak anak madrasah udah di didik untuk menjadi hafidz atau penghafal qur’an “. Jderr…, kaget bukan main, disana anak anak SD udah mampu menghafal qur’an, lah akunya yang udah 23 tahun dikala itu untuk juzz amma saja gak hafal.
Sekembalinya dari tanah suci, aku niatkan untuk menghafal qur’an. Tapi setelah aku dengarkan beberapa muratal dari imam imam di saudi sana, aku merasa ada bacaanku yang salah. Maka dari itu, sesampainya dirumah aku langsung minta ajar ke mama. Alhamdulillah.
Lalu, sudahkah sempurna ?
Belum kurasa, masih banyak kekurangan disini dan disitu. Semangat untuk menghafal qur’an yang naik turun kadang kujadikan alasan, astaghfirullah. Besok kurencanakan untuk pulang ke rumah mama bareng istri untuk 5 hari. Niat kami adalah untuk kembali belajar iqro, menyempurnakan lagi cara baca dan tajwid. Semoga dimudahkan oleh Allah azza wa jalla #insyaallah #bismillah
Bapak Rumah Tangga

Sebelum menikah aku udah memikirkan masak masak akan bagaimana hidupku nanti setelah menikah. Dan rupanya memang tak jauh jauh dari bayanganku, tidur masih agak telat (jam 11 ato 12) bangun subuh, lalu tidur lagi ampe jam 10-11 pagi, ato kadang molor ampe dzuhur. Awal awal dulu fenny masih bekerja sebagai guru, tapi sejak ketahuan hamil,dan bawaan hamilnya malah begadang serta gak jelas jam tidurnya. Akhirnya diputuskan untuk “meliburkan diri” dulu. Dan dimulailah perjalanan rumah tangga kami yang saban hari dirumah saja.
Kadang saking betahnya kami dirumah saja, bisa sampe 3 hari gak keluar rumah. Nah, kadang kadang tetangga masih bingung dengan keadaan keluarga kami. Suami istri gak kerja, tapi tetep hidup, tetep bisa beli barang barang, tetep saban keluar mesti bawa jinjingan minimal 1 plasti kresek. Ya.. akhirnya inilah tantangan buatku lagi, menerangkan dengan se simpel simpelnya apa pekerjaanku, dan berdo’a agar mereka mengerti. (kebanyakan akan menganggap aku jualan di internet, atau punya warnet hahahaha)
Nah, masalah bapak rumah tangga. Sedari awal aku nikah, atau mungkin jauh sebelum itu, aku dididik oleh keluargaku untuk mandiri. Segala sesuatu dikerjain sendiri. Nah sejak nikah otomatis fenny ikut andil, mulai dari nyuci baju (yang di 2 tahun terakhir aku sering masukin laundry), nyuci piring, nyapu, masak. Untuk urusan terakhir;masak, aku lebih seneng sendiri hahahaha. Bukan gak percaya dengan rasa masakan istri, tapi sedari dulu aku emang hobi masak. Jadilah pembagian tugas dirumah ini rada berat sebelah. Fenny nyuci, aku masak. Fenny nyapu, aku masak. Fenny bersihin kamar, aku masak. Yang penting aku yang masak, tapi kalo untuk belanja ke pasar, kami masih sering belanja berdua (dan akhirnya aku terkaget kaget mengetahui harga bahan makanan aslinya murah murah).
Nah soal masak memasak, setelah hampir 4 bulan ngontrak, sekarang aku rada handal untuk urusan masak hahaha. Tapi tetep, selama masak aku ajarin ke fenny gimana cara aku masak dan gimana selera masakanku. Pengenku setelah nanti punya anak, aku gak mau ikut campur banget soal masak memasak, karna aku pengen anakku bener bener kenal ama masakan uminya, insya allah
Generasi Pengeluh
Sebuah kebiasaanku di social media semacam facebook atau twitter adalah ; menghapus teman teman yang saban hari status atau twitnya cuman keluhan. Keluhannya mulai dari yang berat berat ampe yang ringan ringan. Mulai dari terbelit hutang sekian juta, ampe ngeluh cuaca panaslah, air gak adalah, dan lain lain tetek bengek kehidupan yang jikalau tidak dikeluhkan maka hidup akan jauh lebih mudah dan gampang.
Dahulu aku pribadi yang juga acap mengeluh, tapi Alhamdulillah seiring waktu dan semakin sadar bahwa semua yang kita dapatkan detik ini adalah atas izin Allah azza wa jalla semata. Lalu apa yang harus kita keluhkan ?? Jikalau semua yang menimpa kita saat ini adalah pemberian Allah, dan yang pasti adalah yang terbaik untuk kita umatNya. Tapi inilah manusia, iman tak selalu kuat menanggung, syetanpun kadang terlalu gampang membisikkan, rasa syukur yang kadang tak terlintas sedikitpun di hati.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nahl: 18).
Mari kita sama sama belajar untuk tetap bersyukur, tetap berfikiran positif disetiap keadaan (walaupun sedang sempit). Jangan jadi generasi pengeluh yang tak tau caranya bersyukur pada sang pemberi hidup. Nafas yang kita dapatkan setiap helaan ini adalah nikmat, syukuri itu. Hitung saja kesempurnaan tubuh yang kita punya, hitung satu persatu, maka tak kan sanggup mungkin kita mengeluh lagi karna sudah terlalu banyak nikmat ini. Wallahu’alam bishawab













